Nyanyian berbisiksedari dulu melantun dengan gemanya yang kadang menjadikan dinding menggetar hingga gelombangnya silih bersentuhan hadirkan ingin yang kadang mau menyentuhmu,
Angin hembus memutarkadang sekedar singgah melenai gerah yang menyesak di cakrawala yang telah merambatkan pikir dari tiap relung di kedalaman rasaku,
Tabuh di gendangbisiknya terdengar berdendang menyuarakan serunai merdu gembalai bisik jiwa di beranda rasa yang kadang mengantar seruan bisik kata terdengarku akan dirimu,
Suar suara yang hadir ditajamnya pendengarkuajak mendengarkan untaian gemanya merupai rona pada rasa yang tumbuh dalam gersangnya yang menadah butir kesejukan serupa kala fajar yang kadang dicampurkan embun dan hujan,
Yang kadang fajarpun...tak mampu meronai awan dengan meng-arsirkan jingga dari sinar pancaran cahaya matanya menguntai gema gelombang, yang kadang pula selimuti langkah ketikanya tegakku mendirikan pandang pandangan akan bertautku terhadap tautanmu,
Angguk wajahterpagut pula merunduk kadang malunya meronai paras, yang memandang rona wajah yang aduhai tatapannya lembut menelisik masuk mencabari ingatkanku akan rasa,
Namanama terbahasakan merupai rona bahasa yang darinya disini runduk meminta sudilah bahasamu pun tersuar mendengarkan dindingku akan hasrat serupalah ronamu-pun yang tumbuh, agar bermekaran di ladang yang sama,
Iringiringan bahasatak kuasa ditebar penuhi udara kala-ku mencoba walau sekedarnya saja mengintip masuk kedalam palung yang disana ada rasamu yang entah berbahasa apa,
Hembusan suara kadang berbisikmemilih kata yang maunya dapat mewakili ungkapan bahasa menuju matamu yang membaca, yang pula enggan menatap matamu yang telah memikat rasa, walau semua bagianmu ada yang menjadi utuh milikmu yang tak seharusnya terdengar olehku,
Adalah tiap arsiran yang mewali bahasa yang ku gores yang ku untai iniadalah akan dirimu dan tentang dirimu yang memiliki nama dalam bahasaku menggambar aura dirimu,
Retaslah badai, mencabarlah awan, berjatuhanlah embun, menjinggalah fajar, bermekaranlah bunga, bertebarlah aroma mewangi, penuhi ruang dan udara hingga angin tak usai hembuskan dirinya membawa keindahan alam semesta hingga kerelung rasa menghidupkan jiwa,
Oase di gersangnya padang, kerdip kerlipan fatamorgana, semburat rekahan sinar horizon yang menjingga akan perupaanku yang kadang menikmati indah dirimu tergambar imajiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar